Kami Hanya Pasrah & Terus Berusaha

donasikan

Bantu Bebaskan Lilitan Riba Ini

2016-25-11-00-39-05

Namanya Rocky Widya Alif Fian biasa dipanggil Fian, anak kelas 2 SD yang menyukai mata pelajaran Matematika merupakan anak pertama dari pasangan MR & LI, sejak masih balita rasa ingin tahunya besar, ketika dia melihat sesuatu maka dia akan terus bertanya tentang hal tersebut hingga dia memahami dan mengerti. Di usianya yang sekarang rasa ingin tahu itu masih melekat dan sudah menjadi sifatnya untuk ingin tahu apa yang dia lihat maupun yang dia dengar.

Seperti sore itu tepatnya dibulan ramadhan tahun 2010 waktu itu dia masih berusia 3 tahun, dia ikut ibunya jualan gorengan dan dawet di depan kampung di mana orang tuanya tinggal sementara ayahnya di rumah mengolah gorengan yang kemudian dijual oleh ibunya tersebut.

Fian, bocah 3 tahun yang biasanya dirumah bersama ayahnya waktu itu bersikeras ikut ibunya berjualan gorengan, hari semakin sore sang ibu sibuk melayani pembeli, maklum dibulan ramadhan gorengan adalah menu favorit untuk berbuka oleh kebanyakan orang, sang ayah pun sibuk di depan perapian untuk mengolah gorengan, hingga suatu saat terdengar suara keponakannya menghampiri dan berkata,
“mas fian mas , , , dia terkena kembang api“,
sang ayah yang sedang sibuk menggoreng pun menimpali, “biar saja supaya fian jera , , , “ jawabnya waktu itu,
“tapi ini berdarah mas, darahnya banyak , , ,” belum sempat mengeluarkan kata-kata lagi terdengar suara tangisan di dalam rumah, seketika itu juga sang ayah berlari meninggalkan perapian dan gorengan yang masih diolahnya dan menuju ke suara tangisan itu, ternyata suara tangisan si Fian digendogan ibunya yang saat itu panik, kemudian sang ibu berkata sambil terisak, ”mas, bagaimana ini mas mata fian berdarah coba diperiksa mas , , , “
sang ayah mengambil alih Fian dari gendongan ibunya, kemudian memeriksa kondisi mata anak pertamanya itu, “ Masyaallah !, kenapa bisa begini, bagaimana kejadiannya “ kata sang ayah yang kaget melihat kondisi Fian yang ternyata pupil matanya mendapat luka sobek dan mengeluarkan darah.

2016-25-11-00-52-16

Singkat cerita Fian pun dilarikan ke salah satu rumah sakit daerah dimana orang tuanya tinggal namun rumah sakit itu tidak sanggup menangani, Fian pun akhirnya dirujuk ke rumah sakit spesialis mata di luar daerah, dan setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh tibalah Fian dan keluarga di RS YAP, Jogjakarta sekitar pukul 01.11 wib. Dirumah sakit inilah Fian mendapat perawatan, akhirnya mata sebelah kira (yang mendapat luka) harus dioperasi, operasi pun dilakukan dihari berikutnya. Setelah beberapa hari mendapat perawatan di RS YAP, akhirnya Fian diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit atas ijin dokter, tentunya setelah orang tuanya menyelesaikan administrasi, Fian beserta keluarga pun akhirnya meninggalkan rumah sakit, Dengan mata dibalut perban dan diagnosa oleh dokter bahwa mata Fian tidak bisa kembali normal bahkan kemungkinan buta sangat lah membuat kedua orang tuanya terpukul, tapi yang namanya anak-anak, biarpun dengan mata diperban dan diagnosa dokter seperti itu masih saja bercanda dan menunjukkan kelucuan seorang anak berusia 3 tahun dan dengan situasi seperti itu sedikit terhiburlah kedua orang tua dan keluarga.

Setelah beberapa tahun dengan kondisi mata sebelah kiri mendapat luka yang membekas Fian tetaplah bocah dengan aktifitas bocah pada umumnya, tapi terkadang dia minder dengan kondisi mata seperti itu terutama saat berinteraksi dengan orang lain atau orang yang baru dia kenal, bahkan untuk belajar dan membacapun dia harus memiringkan kepalanya bahkan harus sampai menempel ke meja saat dia membaca maupun menulis dengan posisi mata yang luka di benamkan kelengan atau ditutup dengan tangan. 2016-25-11-00-41-55Dan sudah beberapa hari ini dia mengeluh kalau mata yang terluka itu sering dirasakan sakit, “sakittt bu, rasanya pegal , , , pusinggg. “ katanya sambil memegang mata dan kepalanya yang juga dirasakan pusing, sang ibu pun berkata “ sabar ya nak, ibu sedang menabung, nanti kalau tabungan ibu sudah cukup kita ke dokter buat memeriksakan mata Fian” hibur ibunya meskipun dengan keterbatasan ekonomi namun sang ibu tetap memberi semangat untuk anaknya tersebut.

Profil orang tua

Ayah

Dari keluarga buruh biasa, pekerjaan saat itu (ketika terjadi musibah yang menimpa Fian) tidak tetap di salah satu usaha kuliner alias bekerja disaat ada pesanan saja, serabutan sebagai sales barang-barang kelontong di saat sepi seperti bulan Ramadhan beralih sebagai penjual gorengan dan kini sejak 2013 bekerja sebagai karyawan outsourching di bagian cleaning service disalah satu PT dan ditempatkan di instansi pemerintah dengan gaji tidak lebih bahkan kurang dari 1.5jt.

Ibu

Orang tua(ayah) PNS biasa(driver) disalah satu instansi sedangkan ibu hanya sebagai ibu rumah tangga, disaat musibah terjadi ibu dari Fian ini juga sebagai ibu rumah tangga, setelah terjadi peristiwa yang menimpa Fian sang ibu bekerja apa saja untuk membantu meringankan beban suaminya mulai dari jualan produk orang lain sampai berusaha membuat usaha sendiri, namun gagal terkendala modal dan suatu hal dan saat ini sang ibu bekerja di pabrik pengolahan kayu lapis dengan UMR daerah.

Terjebak Riba

Sejak terjadi musibah yang menimpa Fian kedua orang tua ini terus berusaha banting tulang mencari rezeki untuk melunasi hutang di bank yang waktu itu digunakan sebagai biaya operasi mata anaknya, Fian, namun karena saat itu belum memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap maka satu-satunya jalan ketika tiba jatuh tempo angsuran, mereka meminjam uang di bank lain bahkan di KSP yang bisa meminjamkan uang tanpa agunan, dan kini setelah kedua orang tua tersebut memiliki pekerjaan tetap mereka dihadapkan oleh masalah yang lebih rumit lagi, mereka terjerat oleh hutang riba dari meminjam uang di bank dan beberapa KSP karena selama ini mereka gali lubang tutup lubang untuk membayar hutang, bahkan salah satu jaminan di bank berupa sertifikat tanah di bulan Desember tahun ini(2016) hampir kritis karena akan disegel oleh pihak bank karena ada keterlambatan beberapa kali angsuran belum lagi di KSP dan lainnya yang jika di global semua piutang hampir menembus angka 100jt sedangkan pendapatan dari kedua orang tua Fian tidak lebih dari 3jt itu pun jika digunakan untuk membayar angsuran masih jauh dari cukup.

Sekarang mereka hanya pasrah dan mengharap ada keajaiban yang di berikan Allah SWT sehingga beban hutang riba mereka bisa terlunasi namun mereka tetap berusaha sedapat mungkin untuk mencari rezeki yang halal di luar dari pendapatan/gaji mereka untuk membayar hutang yang sudah menjadi kewajiban mereka untuk dilunasi. Dan mungkin apabila dari pembaca artikel di blog ini ada rezeki yang lebih dan berniat meringankan beban dari kedua orang tua Fian, silahkan jika berkenan untuk memberikan donasinya yang nantinya jika sudah terkumpul akan digunakan sebagai biaya pengobatan Fian dan digunakan untuk membayar/mengurangi hutang riba yang bunganya terus berjalan ini.

Silahkan kunjungi halaman kontak jika dari pembaca berniat memberikan donasinya, semoga donasi dari anda merupakan sedekah yang bermanfaat/berkah dan semoga Allah membalas niat baik anda semua dan semoga di catat sebagai amal ibadah disisi-NYA, amin.

Kunjungi halaman kontak disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s